KATA PENGANTAR
Dalam penyusunan tugas atau
materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari
bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan,
dorongan dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi
teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
Bapak dosen akuntansi keuangan
II, yaitu Bapak Saiful Muchlis yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada
penulis sehingga penulis termotivasi dan menyelesaikan tugas ini. Orang tua
yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan
sehingga tugas ini selesai.
Semoga materi ini dapat
bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan,
khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amiin.
Makassar, 18 Mei 2013
Muh Dahri Firdaus
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………….
i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………..................
ii
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang ………………………………………………………………………….. 1
B.
Tujuan
…………………………………………………………………………………… 2
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Bentuk
Aset Yang Diinvestasikan ……………………………………………………… 4
B.
Faktor-Faktor
Penentu Investasi bagi Seorang Investor ……………………………….. 4
C.
Rasio-rasio
Keuangan …………………………………………………………………… 5
D.
Tipe Investor Menurut Profil Resiko
…………………………………………………… 5
E.
Jenis-Jenis
Investasi …………………………………………………………………….. 7
F.
Keunggulan
dan Kekurangan Setiap Investasi ………………………………………… 9
BAB
III PENUTUP
A.
Kesimpulan
……………………………………………………………………………… 12
B.
Saran
…………………………………………………………………………………….. 12
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………….
13
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Definisi menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia, Investasi diartikan sebagai penanaman uang atau di suatu
perusahaan atau proyek untuk tujuan memproleh keuntungan. Pada dasarnya
investasi adalah membeli suatu aset yang diharapkan di masa datang dapat dijual
kembali dengan nilai yang lebih tinggi.
Investasi juga dapat dikatakan
sebagai suatu penundaan konsumsi saat ini untuk konsumsi masa depan. Harapan
pada keuntungan di masa datang merupakan kompensasi atas waktu dan risiko yang
terkait dengan suatu investasi yang dilakukan.
Menurut Sunariyah (2003:4):
“Investasi adalah penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki
dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan di
masa-masa yang akan datang.” Dewasa ini banyak negara-negara yang melakukan
kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan investasi baik domestik ataupun
modal asing. Hal ini dilakukan oleh pemerintah sebab kegiatan investasi akan
mendorong pula kegiatan ekonomi suatu negara, penyerapan tenaga
kerja, peningkatan output yang dihasilkan, penghematan devisa atau bahkan
penambahan devisa.
Menurut Husnan (1996:5)
menyatakan bahwa “proyek investasi merupakan suatu rencana untuk
menginvestasikan sumber-sumber daya, baik proyek raksasa ataupun proyek kecil
untuk memperoleh manfaat pada masa yang akan datang.” Pada umumnya manfaat ini
dalam bentuk nilai uang. Sedang modal, bisa saja berbentuk bukan uang, misalnya
tanah, mesin, bangunan dan lain-lain. Namun baik sisi pengeluaran investasi
ataupun manfaat yang diperoleh, semua harus dikonversikan dalam nilai uang.
Suatu rencana investasi perlu dianalisis secara seksama.
Analisis rencana investasi
pada dasarmya merupakan penelitiantentang dapat tidaknya suatu proyek
(baik besar atau kecil) dapat dilaksanakan dengan berhasil, atau suatu metode
penjajakkan dari suatu gagasan usaha/bisnis tentang kemungkinan layak atau
tidaknya gagasan usaha/bisnis tersebut dilaksanakan. Suatu proyek investasi
umumnya memerlukan dana yang besar dan akan mempengaruhi perusahaan dalam
jangka panjang. Oleh karena itu dilakukan perencanaan investasi yang lebih
teliti agar tidak terlanjur menanamkan investasi pada proyek yang tidak
menguntungkan.
Alasan melakukan investasi adalah
sebagai berikut:
a.
Produktivitas
seseorang yang terus mengalami penurunan.
b.
Tidak
menentunya lingkungan perekonomian sehingga memungkinkan suatu saat penghasilan
jauh lebih kecil dari pengeluaran.
c.
Kebutuhan-kebutuhan
yang cenderung mengalami peningkatan.
Seseorang tentunya harus
memikirkan masa depan dimana pada saat kebutuhan hidup terus meningkat,
kebutuhan yang dimaksud dapat berupa pendidikan, sarana transportasi,
kesehatan, tempat tinggal, kebutuhan untuk rekreasi, ibadah, hingga kebutuhan
untuk masa tidak produktif. Dengan berlatar belakang hal tersebut maka
seseorang menyisihkan sebagian dari pendapatannya di masa produktif dan
meng-investasikannya untuk masa dimana sudah kurang produktif.
Ada banyak pilihan dalam
berinvestasi, diantaranya yaitu membuka deposito, menabung, membeli tanah
dan bangunan, obligasi, membeli emas, saham, dan lain-lain.
B.
Tujuan
Pada umumnya, investor memiliki
beberapa faktor pertimbangan ketika mencari tempat yang tepat untuk menginfestasikan dananya. Faktor keamanan,
tingkat keuntungan, dan apresiasi modal, adalah beberapa faktor yang
mempengaruhi keputusan berinvestasi dan juga pertimbangan usia, kondisi hidup,
dan tingkat kesejahteraan. Janda berusia 75 tahun yang sudah menjalani masa
pensiunnya lebih tertarik memilih investasi yang lebih terjaga nilai
investasinya dibanding eksekutif pemuda yang berusia 30 tahun. Karena janda ini
membutuhkan pendapatan dari investasinya untuk bias survive, dia
tidak mau mengambil resiko kehilangan dananya.
Di sisi lain, eksekutif muda
memiliki waktu yang lebih panjang. Pendapatan investasinya saat ini barangkali belum
cukup untuk memenuhi kebutuhannya, dan dia dapat mencari strategiinvestasi yang lebih agresif.
Posisi keuangan juga ikut
mempengaruhi tujuan berinvestasi. Seorang milyader tentu memiliki tujuan yang
berbeda dibanding pasangan yang baru saja menikah. Sebagai contoh, seorang
milyader mungkin tidak masalah untuk menyetorkan modal 100 milyar dalam
investasinya di properti. Baginya, keuntungan dalam jumlah sekian ribu bukanlah
hal yang besar bagi pendapatannya.
Sementara itu, pasangan suami
istri lebih berkonsentrasi dalam menabung untuk mengangsur rumahnya dan lebih
menghindari resiko kehilangan dananya dalam investasi yang beresiko tinggi.
Terlepas dari besarnya potensi pengembalian modal, investasi yang sifatnya spekulasi
belum menjadi pilihan yang tepat bagi pasangan ini.
Singkatnya, semakin pendek usia
anda, semakin konservatif dalam memilihinvestasi. Tentukan dengan bijak media
investasi apa yang tepat untuk anda. Sebagai contoh, jika anda masih berusia 20
tahun dan berinvestasi untuk tujuan agar supaya bisa lebih cepat pension dini,
anda masih memiliki waktu yang cukup panjang untuk bangkit lagi jika anda
mengalami kerugian yang mungkin terjadi seiring berjalannya investasi anda.
Sebaliknya, jika anda memulai
investasi di usia tua, alangkah lebih bijaksana jika anda memilih investasi
yang lebih konservatif dengan tingkat resiko kehilangan dana yang lebih kecil
dibanding mereka yang jauh lebih muda. anda tidak ingin membiarkan dana anda
dalam volatilitas yang tinggi, dan anda tidak ingin kehilangan dana anda di
pasar modal dengan tingkat resiko yang lebih besar.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Bentuk
Aset Yang Diinvestasikan
Secara umum bentuk aset yang di
Investasikan terbagi menjadi dua jenis yaitu:
1.
Riil
Investment yaitu menginvestasikan sejumlah dan tertentu pada aset berwujud,
seperti halnya tanah, emas, bangunan, emas, dan lain-lain.
2.
Financial
Investment yaitu menginvestasikan sejumlah dana tertentu pada aset finansial,
seperti halnya deposito, saham, obligasi, dan lain-lain. Dalam hal ini surat
berharga yang diperdagangkan atau yang sering disebut dengan efek adalah berupa
saham. Menurut Undang-Undang No.8 Tahun 1995 tentang pasar
modal, definisi dari bursa efek adalah pihak yang menyelenggarakan
penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan
efek diantaranya. Di Indonesia, perdagangan saham dilakukan di Bursa Efek
Indonesia. Tidak semua perusahaan dapat langsung mengeluarkan suatu efek
(saham), oleh sebab itu perusahaan yang ingin menerbitkan efek harus memenuhi
kriteria ataupun peraturan-peraturan yang ada sebelum menerbitkan suatu efek.
B.
Faktor-Faktor
Penentu Investasi bagi Seorang Investor
Faktor-Faktor penentu investasi bagi
seorang investor yang hendak melakukan suatu investasi, harus melakukan suatu
analisis terlebih dahulu dalam menentukan keputusan investasinya. Untuk
melakukan suatu analisis investasi, setidaknya ada tiga faktor yang harus
dianalisis, yaitu:
1.
Analisis
kondisi makroekonomi
2.
Analisis
pada jenis industry
3.
Analisis
fundamental suatu perusahaan
Tahap pertama yang dilakukan oleh
seorang investor dalam berinvestasi adalah melakukan analisis terhadap
variabel-variabel makro, tahap analisis ini dilakukan untuk menganalisis
kondisi perekonomian suatu negara secara makro dalam proses suatu investasi. Variabel-variabel
ekonomi makro yang dianalisis diantaranya adalah tingkat inflasi, transaksi
berjalan, kurs/exchange rate (nilai tukar suatu mata uang negara terhadap mata
uang negara lain), suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia), dan lain-lain.
Pada tahap kedua, dilakukan
analisis pada berbagai jenis industri. Pada tahapan ini, kita memilih jenis
industri yang paling memberikan prospek keuntungan jika dilakukan invstasi.
Sektor mana yang akan dijadikan suatu investasi dapat dilihat dari pergerakan
dalam indeks sektoral industri pada suatu pasar modal. Sektor yang mempunyai
indeks yang bagus untuk investasi jangka panjang tentunya akan dipilih.
Pada tahap analisis ketiga,
dilakukan analisis fundamental pada perusahaan, dengan menggunakan rasio-rasio
keuangan suatu perusahaan.
C.
Rasio-rasio
Keuangan
Dalam rasio-rasio keuangan,
terbagi lagi menjadi lima rasio, yaitu :
1.
Rasio
Likuiditas, menyatakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka
pendek yang jatuh tempo.
2.
Rasio
Aktifitas, menunjukkan kemampuan serta efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan
aktifa yang dimiliki atau perputaran (turnover) aktifa-aktifa suatu perusahaan.
3.
Rasio
Hutang, berfungsi untuk menunjukkan kemampun perusahaan untuk memenuhi
kewajiban jangka panjangnya.
4.
Rasio
Profitabilitas, menunjukkan tingkat keberhasilan perusahaan di dalam
menghasilkan keuntungan.
5.
Rasio
Pasar, menggambarkan bagaimana pasar menghargai saham suatu perusahaan.
D.
Tipe Investor Menurut Profil Resiko
Tipe-tipe investor menurut profil
resiko dalam berinvestasi dapat dideskripsikan berikut:
1)
Defensive
Investor
dengan tipe defensive, investor ini berusaha untuk mendapatkan keuntungan dan
menghindari resiko sekecil apapun dari investasi yang dilakukan. Investor tipe
ini tidak mempunyai keyakinan yang cukup dalam hal spekulasi, dan lebih memilih
untuk menunggu saat-saat yang tepat dalam berinvestasi agar investasi yang
dilakukan terbebas dari resiko.
2)
Conservative
Investor
dengan tipe conservative, biasanya berinvestasi untuk meningkatkan kualitas
hidup keluarga dan dengan rentang waktu investasi yang cukup panjang, misalnya,
untuk pendidikan perguruan tinggi anak atau biaya hidup di hari tua. Investor
tipe ini memiliki kecenderungan menanam investasi dengan keuntungan (yield)
yang layak saja dan tidak memiliki resiko besar, karena filosofi investasi
mereka untuk menghindari resiko. Walaupun investor conservative sering
berinvestasi, investor ini umumnya mengalokasikan sedikit waktu untuk
menganalisa dan mempelajari portofolio investasinya.
3)
Balanced
Investor
dengan tipe balanced, merupakan tipe investor yang menginginkan resiko
menengah. Investor tipe ini selalu mencari proporsi yang seimbang antara resiko
yang dimungkinkan terjadi dengan pendapatan yang dapat diraih. Tipikal investor
ini bahwa mereka akan selalu berhati-hati dalam memilih jenis investasi, dan
hanya investasi yang proporsional antara resiko dan penghasilan yang bisa diperoleh
yang akan dipilih.
4)
Moderately
Aggressive
Moderately
aggressive, merupakan tipe investor yang tenang atau tidak ekstrim dalam
menghadapi resiko. Investor ini cenderung memikirkan kemungkinan terjadinya
resiko dan kemungkinan bisa mendapatkan keuntungan. Dalam hal ini, investor
dengan tipe moderately aggressive selalu tenang dalam mengambil keputusan
investasi karena keputusan yang ditetapkan sudah dipikirkan sebelumnya.
5)
Aggressive
Investor
Aggressive,
atau biasa disebut 'pemain', adalah kebalikan dari investor conservative.
Mereka sangat teliti dalam menganalisa portofolio yang dimiliki.
Semakin banyak angka-angka dan fakta yang bisa dianalisa adalah semakin baik. Investor tipe ini umumnya berinvestasi dengan rentang waktu relatif pendek karena mengharapkan adanya keuntungan yang besar dalam waktu singkat. Walaupun tidak berharap untuk merugi, namun setiap investor aggressive menyadari bahwa kerugian adalah bagian dari permainan.
Semakin banyak angka-angka dan fakta yang bisa dianalisa adalah semakin baik. Investor tipe ini umumnya berinvestasi dengan rentang waktu relatif pendek karena mengharapkan adanya keuntungan yang besar dalam waktu singkat. Walaupun tidak berharap untuk merugi, namun setiap investor aggressive menyadari bahwa kerugian adalah bagian dari permainan.
E.
Jenis-Jenis
Investasi
Menurut Senduk (2004:24) bahwa
produk-produk investasi yang tersedia di pasaran antara lain:
a.
Tabungan
di bank
Dengan
menyimpan uang di tabungan, maka akan mendapatkan suku bunga tertentu yang
besarnya mengikuti kebijakan bank bersangkutan. Produk tabungan biasanya
memperbolehkan kita mengambil uang kapanpun yang kita inginkan.
b.
Deposito
di bank
Produk
deposito hampir sama dengan produk tabungan. Bedanya, dalam deposito tidak
dapat mengambil uang kapanpun yang diinginkan, kecuali apabila uang tersebut
sudah menginap di bank selama jangka waktu tertentu (tersedia pilihan antara
satu, tiga, enam, dua belas, sampai dua puluh empat bulan, tetapi ada juga yang
harian). Suku bunga deposito biasanya lebih tinggi daripada suku bunga
tabungan. Selama deposito kita belum jatuh tempo, uang tersebut tidak akan
terpengaruh pada naik turunnya suku bunga di bank.
c.
Saham
Saham
adalah kepemilikan atas sebuah perusahaan tersebut. Dengan membeli saham,
berarti membeli sebagian perusahaan tersebut. Apabila perusahaan tersebut
mengalami keuntungan, maka pemegang saham biasanya akan mendapatkan sebagian
keuntungan yang disebut deviden. Saham juga bisa dijual kepada pihak lain, baik
dengan harga yang lebih tinggi yang selisih harganya disebut capital
gain maupun lebih rendah daripada kita membelinya yang selisih harganya
disebut capital loss. Jadi, keuntungan yang bisa didapat dari saham ada dua yaitu
deviden dan capital gain.
d.
Properti
Investasi
dalam properti berarti investasi dalam bentuk tanah atau rumah.
Keuntungan yang bisa didapat dari properti ada dua yaitu :
Keuntungan yang bisa didapat dari properti ada dua yaitu :
1.
Menyewakan
properti tersebut ke pihak lain sehingga mendapatkan uang sewa.
2.
Menjual
properti tersebut dengan harga yang lebih tinggi.
e.
Barang-barang
koleksi
Contoh
barang-barang koleksi adalah perangko, lukisan, barang antik, dan lain-lain.
Keuntungan yang didapat dari berinvestasi pada barang-barang koleksi adalah
dengan menjual koleksi tersebut kepada pihak lain.
f.
Emas
Emas
adalah barang berharga yang paling diterima di seluruh dunia setelah mata uang
asing dari negara-negara G-7 (sebutan bagi tujuh negara yang memiliki
perekonomian yang kuat, yaitu Amerika, Jepang, Jerman, Inggris,
Italia, Kanada, dan Perancis). Harga emas akan mengikuti kenaikan nilai
mata uang dari negara-negara G-7. Semakin tinggi kenaikan nilai mata uang asing
tersebut, semakin tinggi pula harga emas. Selain itu harga emas biasanya juga
berbanding searah dengan inflasi. Semakin tinggi inflasi, biasanya akan semakin
tinggi pula kenaikan harga emas. Seringkali kenaikan harga emas melampaui kenaikan
inflasi itu sendiri.
g.
Mata
Uang Asing
Segala
macam mata uang asing biasanya dapat dijadikan alat investasi.
Investasi dalam mata uang asing lebih beresiko dibandingkan dengan investasi dalam saham, karena nilai mata uang asing di Indonesia menganut sistem mengambang bebas (free float) yaitu benar-benar tergantung pada permintaan dan penawaran di pasaran. Di Indonesia mengambang bebas membuat nilai mata uang rupiah sangat fluktuatif.
Investasi dalam mata uang asing lebih beresiko dibandingkan dengan investasi dalam saham, karena nilai mata uang asing di Indonesia menganut sistem mengambang bebas (free float) yaitu benar-benar tergantung pada permintaan dan penawaran di pasaran. Di Indonesia mengambang bebas membuat nilai mata uang rupiah sangat fluktuatif.
h.
Obligasi
Obligasi
atau sertifikat obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah
maupun perusahaan, baik untuk menambah modal perusahaan atau membiayai suatu
proyek pemerintah. Karena sifatnya yang hampir sama dengan deposito, maka agar
lebih menarik investor suku bunga obligasi biasanya sedikit lebih tinggi
dibanding suku bunga deposito. Selain itu seperti saham kepemilikan obligasi
dapat juga dijual kepada pihak lain baik dengan harga yang lebih tinggi maupun
lebih rendah daripada ketika membelinya. Terdapat pengelompokkan jenis-jenis
investasi, yaitu:
1.
Deposito
berjangka
Simpanan dalam mata uang Rupiah,
dengan tingkat suku bunga relatif lebih tinggi dibandingkan jenis simpanan lainnya.
Tersedia dalam jangka waktu 1,3, 6, 12, dan 24 bulan.
2.
Sertifikat
Bank Indonesia (SBI)
Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
merupakan bagian dari upaya BI untuk meredam dan menstabilkan likuiditas yang
ada di pasar.
3.
Saham
Surat bukti pemilikan bagian modal
perseroan terbatas yang memberikan berbagai hak menurut ketentuan anggaran
dasar (shares, stock ).
4.
Obligasi
Surat utang yang berjangka waktu
lebih dari satu tahun dan bersuku bunga tertentu, yang dikeluarkan oleh
perusahaan untuk menarik dana dari masyarakat, guna pembiayaan perusahaan atau
oleh pemerintah untuk keperluan anggaran belanjanya (debenture bond).
5.
Sekuritas
Pasar Uang
Sekuritas pasar uang merupakan
surat-surat berharga jangka pendek yang diperjualbelikan di pasar uang.
6.
Sertifikat
HutangOobligasi
Merupakan bukti kepemilikan
piutang kepada pihak lain. Sertifikat ini dapat diperjualbelikan pada tingkat
diskonto tertentu. Sertifikat hutang obligasi ini
merupakan bentuk investasi jangka panjang.
merupakan bentuk investasi jangka panjang.
7.
Tanah/bangunan
Investasi ini tergolong investasi
dalam bentuk property, investasi ini biasanya untuk jangka waktu panjang karena
mengharapkan adanya kenaikan dari nilai tanah/bangunan yang telah dibelinya.
8.
Reksa
dana
Wadah investasi yang berisi dana
dari sejumlah investor dimana uang didalamnya diinvestasikan ke dalam berbagai
produk investasi oleh sebuah Perusahaan Manajemen Investasi (Mutual Fund).
F.
Keunggulan
dan Kekurangan Setiap Investasi
a.
Produk
Perbankan Tabungan
Digunakan untuk menyimpan dana
nasabah. Dapat memberikan banyak kemudahan, antara lain:
·
Likuiditas
yang tinggi, dapat diambil kapan saja: counter bank dan ATM
·
Kemudahan
bertransaksi: pengiriman uang, pembayaran (telepon, kartu kredit, dan
lain-lain), penukaran uang, dan lain-lain.
·
Dijamin
pemerintah, sampai tahun 2006.
·
Kekurangan:
Ø
Suku
bunga yang diberikan sangat rendah, di bawah tingkat inflasi.
Ø
Bunga
kena pajak 20% untuk yang di atas Rp 7,5 juta.
b.
Rekening
koran (cheque/giro)
Dipergunakan secara luas oleh
perusahaan dan perorangan, untuk melakukan transaksi keuangan.
Kemudahan, antara lain:
Ø
Likuiditas
tinggi, dapat diambil kapan saja: counter bank pencairan cek.
Ø
Kemudahan
bertransaksi: pembayaran ke pihak lain tanpa menggunakan uang tunai dan tanpa
harus datang ke bank.
Ø
Dijamin
oleh pemerintah.
Kekurangan:
Ø
Tidak
ada bunga, hanya terdapat jasa giro yang sangat rendah
Ø
Bunga
kena pajak 20%.
c.
Deposito
berjangka
Dipergunakan untuk
menabung/menyimpan uang dalam jangka waktu tertentu.
Kemudahan, antara lain:
Ø
Suku
bunga yang lebih tinggi, sekitar 6%.
Ø
Likuiditas
tinggi, dapat diambil kapan saja, meskipun ada jangka waktu
tertentu.
tertentu.
Ø
Dapat
dijaminkan: untuk mendapatkan hutang dari bank yang sama.
Ø
Dijamin
oleh pemerintah, rate (%) x (# of Days/365) x Nominal x 0.80, 12% x (31/365) x
IDR 1,000,000 x 0.80.
Kekurangan:
Ø
Terkena
penalti, bila diambil sebelum jatuh tempo
Ø
Bunga
kena pajak 20%, di atas Rp 7,5 juta.
Kesimpulan:
Dikarenakan sifatnya dan bunga yang diberikan dari suatu produk perbankan berada di bawah rate inflasi, maka produk perbankan tidak sesuai untuk dipakai sebagai alat investasi.
Kelebihan:
Dikarenakan sifatnya dan bunga yang diberikan dari suatu produk perbankan berada di bawah rate inflasi, maka produk perbankan tidak sesuai untuk dipakai sebagai alat investasi.
Kelebihan:
Ø
Akses
yang cepat/likuiditas yang tinggi
Ø
Kemudahan
bertransaksi
Ø
Jaminan
pemerintah
Secara
umum, bank idealnya digunakan sebagai tempat melakukan transaksi.
Produk perbankan sangat ideal dipergunakan untuk penempatan dana darurat (emergency fund).
Produk perbankan sangat ideal dipergunakan untuk penempatan dana darurat (emergency fund).
d.
Produk
investasi Reksa Dana/Unit Trust
Keunggulan:
Ø
Diversifikasi
Ø
Pilihan
investasi yang beragam
Ø
Transparansi
Ø
Peraturan
yang ketat
Ø
Biaya
yang rendah (subs, redeem, management fee)
Ø
Keuntungan
pajak (untuk di Indonesia saat ini)
Ø
Minimum
investasi yang rendah.
BAB
III
PENUTUP
Puji syukur penulis panjatkan
kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala bimbingan dan rahmatnya selama penulis
menyusun makalah ini. Dengan tersusunnya makalah ini, berarti telah terpenuhi
sebagai tugas penulis dalam rangka menambah nilai tugas Akuntansi Keuangan II.
Penulis menyadari bahwa dalam
penyusunan makalah ini masih belum sempurna dan masih banyak kekurangan. Namun
berkat bimbingan dan pengarahan Bapak dosen serta beberapa pihak maka penulis
dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Untuk ini pada kesempatan ini tak
lupa penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya bila dalam penyusunpenulisan
makalah ini masih belum sempurna. Dan akhirnya penulis berharap semoga karya
tulis ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
A.
Kesimpulan
Dari berbagai uraian dan penjelasan yang telah dikemukakan diatas maka dapatlah
penulis mengambil kesimpulan bahwa dengan mata kuliah Akuntansi Keuangan II,
para pembaca mampu mengerti apa yang dimaksud dengan “Investasi atau Laba
ditahan” sehingga dapat menambah wawasan para pembaca.
B.
Saran
Sebagai penulis makalah ini sangat mengharapkan atas segala saran-saran dan
kritikan bagi para pembaca yang kami hormati guna untuk membangun pula masa
yang akan datang untuk menjadi lebih baik saat penulisan makalah ini yang
semestinya kurang memuaskan bagi tugas makalah yang kami kerjakan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Kertonegoro.
Sentanoe, Analisa dan Manajemen Investasi, Widya Press Jakarta, 1995
Mahmudi,
Manajemen Keuangan Daerah, Erlangga, 2010
http://www.google.co.id/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar